Skip to main content

PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN Oleh : Eny Handayani 1*. 2**.

PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN
Oleh : Eny Handayani 1*. 2**.

1*. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu
2**. Mahasiswa S2 PSDAL Univesitas Bengkulu)

Sumber Daya Alam dan Lingkungan (SDAL) di bumi ini disediakan untuk kepentingan mahluk hidup yang ada, tetapi dengan pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi, dapat berdampak pada kerusakan SDAL itu sendiri. Manusia melakukan eksplotasi SDA untuk mencukupi kebutuhannya, kondisi ini menyebabkan lingkungan hidup dunia menjadi lebih kritis, dan semakin mengancam kualitas kehidupan manusia. Pertumbuhan penduduk yang tinggi dengan pertumbuhan ekonomi yang rendah dan pembangunan yang tidak memperhatikan ekologi merupakan ancaman utama bagi kelestarian SDA. Pada skala yang luas dimensi ini telah berkembang menjadi krisis global, yang ditandai dengan adanya tiga dimensi yang saling berkaitan, yaitu kemiskinan, kerusakan lingkungan dan kesenjangan sosial (Korten, 1990). Dalam hal ini kita bicara pada kebutuhan yang tak terbatas dengan sumber daya yang terbatas dan bagaimana nantinya kita secara bijak mengelola sumber daya tersebut dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi pertanian.
Dalam sektor pertanian misalnya, adanya alih fungsi lahan merupakan hal yang tidak terelakkan lagi. Berdasarkan data yang dirilis BPS 2018, data yang diambil melalui skema Kerangka Sampel Area (KSA), luas lahan baku sawah di Indonesia mengalami penurunan menjadi 7,1 juta hektar dari luasan sebelumnya 7,75 juta hektar (BPS 2013). Hal ini berarti petani harus bersaing dengan adanya pembangunan perumahan dan perkantoran, dan ini menjadi lebih menarik ketika sebenarnya alih fungsi lahan berakibat berkurangnya ketersediaan lahan pertanian. Ini berarti ketersediaan pangan juga akan terganggu. Persaingan alih fungsi lahan untuk menunjang ketahanan pangan juga bersaing dengan adanya laju areal perkebunan seperti berkembangnya lahan perkebunan kelapa sawit. Laju pertumbuhan perkebunan kelapa sawit ini juga berdampak terhadap kerusakan kondisi lingkungan seperti kehancuran habitat, berkurangnya keragaman hayati serta meningkatnya emisi gas rumah kaca, hal ini merujuk pada penelitian yang telah dilakukan oleh Yeeri. B (2010) bahwa industri perkebunan sawit akan memicu lingkungan global.
Melihat kondisi di atas terlihat adanya keterbatasan SDAL dan dampak yang mungkin ditimbulkan dari aktivitas ekonomi manusia. Keterkaitan aktivitas ekonomi dan SDAL ini sejalan dengan Fauzi (2010) yang menyatakan bahwa Sumber Daya Alam merupakan faktor input dalam kegiatan ekonomi dan proses produksi akan menimbulkan output (misal limbah) yang kemudian akan menjadi faktor input bagi kelangsungan dan ketersediaan Sumber Daya Alam tersebut. Mengacu hal tersebut maka perlu adanya integrasi Ekonomi dan Sumber daya Alam dan Lingkungan. Hal ini karena hubungan keduanya dapat berdampak pada lingkungan yang disebabkan oleh aktifitas ekonomi begitu juga sebaliknya adanya dampak ekonomi yang disebabkan oleh perubahan dalam sistem lingkungan. Oleh karena itu maka perlu menjadi perhatian yang lebih cermat hubungan antara keduanya. Strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, berupa akibat aktifitas pertanian/ peternakan berupa dengan “Pertanian Terpadu” merupakan salah solusi yang mungkin dapat dilakukan.
Pembangunan pertanian berkelanjutan merupakan keharusan yang perlu dilakukan pada masa saat ini dan masa yang akan mendatang. Harapannya dengan adanya kegiatan pertanian/peternakan akan dapat memasok kebutuhan hidup manusia secara berlanjut tanpa menimbulkan degradasi sumber daya alam dan lingkungan. Pertanian terpadu adalah menggabungkan dua kegiatan yaitu sektor pertanian dan sektor peternakan dan terkadang sering juga dikenal dengan Sistem Integrasi Ternak dan Tanaman, ciri utama dari sistem Integrasi Ternak dan Tanaman ini adalah adanya sinergisme atau keterkaitan yang saling menguntungkan antara tanaman dan ternak. Petani memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk tanamannya, sedangkan limbah pertanian dimanfaatkan ternak sebagai pakan ternak. Secara ekonomi Sumber daya alam dan lingkungan, limbah pertanian dan kotaran ternak ini akan mampu mengurangi biaya produksi dari kegiatan pertanian dan peternakan tersebut yaitu berupa bahan pakan ternak dan pupuk organik yang termanfaatkan, sehingga meningkatkan pendapatan petani tersebut. Menurut Suwandi (2005) manfaat dari sistem ini diantaranya: a) meningkatkan pendapatan petani peternak dan pendapatan daerah; b) meningkatkan produktifitas dan kelestarian lahan; c) Meningkatkan lapangan kerja baru dengan mengelolah kompos serta d) meningkatkan keharmonisan kehidupan sosial dan menyehatkan lingkungan. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendekatan model pertanian Sistem Integrasi Ternak dan Tanaman dapat memberi keuntungan bagi masyarakat petani peternak baik dari segi ekonomi, lingkungan dan sosial, dan merupakan model yang tepat dalam pembangunan yang berkelanjutan.

Sebagaimana diketahui usaha peternakan akan berdampak pada peningkatan pencemaran lingkungan karena adanya kotoran ternak tersebut. Menumpuknya kotoran ternak ini akan menyebabkan polusi udara, tanah dan air yang berpotensi mengganggu kesehatan ternak itu sendiri dan manusia. Martines dkk, 2009 menyatakan bahwa dampak dari sektor ini pada pencemaran lingkungan (amonia, gas rumah kaca dan phatogen), mengevaluasi resiko kesehatan terkait dan menilai potensi peranan sistem pengolahan limbah dalam pelemahan isu-isu lingkungan dan kesehatan. Sedangkan menurut Flotats dkk 2009, perlakukan terhadap kotoran ternak telah menjadi isu yang memperhatinkan dibanyak peternakan, keberhasilan pemrosesan ini tergantung keterlibatan petani, teknologi dan harga pupuk. Oleh karena pencemaran merupakan fenomena yang bersifat pervasive (akan tetap ada) sebagai akibat dari proses aktivitas ekonomi, maka dari sudut prinsip ekonomi sumber daya jalan yang terbaik dalam menangani pencemaran adalah bagaimana mengendalikan pencemaran tersebut ke tingkat yang paling efisien (Fauzi, A. 2010).

Disini kita akan melihat nilai ekonomis dari kotoran sapi. Kotoran sapi merupakan salah satu bahan potensial untuk membuat pupuk organik (Budiayanto, 2011). Satu ekor sapi menghasilkan kotoran sekitar 8 – 10 kg per hari atau 2,6 – 3,6 ton setahun atau setara dengan 1,5 – 2 ton pupuk organik sehingga akan mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan mempercepat proses perbaikan tanah. Berdasarkan data Statistik Peternakan dan Keswan Tahun 2018 dikeluarkan Ditjend PKH kementrian Pertanian RI ada 133.771 ekor ternak sapi potong di Provinsi Bengkulu, maka potensi kotoran sapi yang dihasilkan sekitar 390.611,320 ton per tahun. Selain menjadi pupuk organik, kotaran ternak ini bisa dijadikan “biogas” yang merupakan gas alternatif berupa energi listrik, hal ini tergantung methana yang ada dalam biodigeter dan setiap 1 M3 methana setara dengan 10 kWh, nilai ini setara dengan 0,6 liter fuel oil. Menurut Kristoferson dan Bakalders, 1991 sebagai pembangkit tenaga listrik, energi yang dihasilkan biogas setara dengan lampu 60-100 watt selama 6 jam penerangan; memasak 3 jenis makanan untuk 5-6 orang, pengganti bahan bakar setara 0,7 liter minyak tanah; sebagai pembangkit tenaga listrik sebesar 1,25 kWh listrik. Dengan adanya potensi kotoran ternak sebagai pupuk organik dan biogas, maka penanganan limbah harus lebih baik lagi.

Potensi limbah kotoran ternak ini, menurut Sudiarto (2008) limbah peternakan yang dihasilkan dari usaha peternakan bukan menjadi beban biaya usaha akan tetapi menjadi hasil ikutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mungkin setara dengan nilai ekonomi produk utama (daging). Lebih lanjut dikatakan Sudiarto (2008) bahwa usaha peternakan kedepannya harus dibangun secara kesinambungan sehingga dapat memberikan kontribusi pendapatan yang besar dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan konsep dari pertanian terpadu, dengan adanya penerapan teknologi budidaya ternak yang ”ramah lingkungan” dapat dilakukan melalui pemanfaatan limbah pertanian yang diperkaya nutrisinya serta pemanfaatan kotoran ternak menjadi pupuk organik dan biogas dapat meningkatkan produktifitas ternak, petani/peternak dan perbaikan lingkungan (Nastiti, 2008).

Referensi.
Budiyanto, Krisno. 2011. Tipologi Pendayagunaan Kotoran Sapi dalam Upaya Mendukung Pertanian Organik di Desa Sumbersari Kecamatan PoncokusumoKabupaten Malang. Jurnal GAMMA 7 (1) 42-49.
Badrun Yeeri. 2010. Dampak Industri Perkebunan Sawit Terhadap Lingkungan Global.
Fauzi, A. 2010. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Teori dan Aplikasi. PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2010.
Flotats, Xavier, August Bonmati, Beleu Fernandez, dan Albert Magri. 2009. Manure Treatment Technologies : On-Farm Versus Centralized Strategies, NE Spain As Case Study. Jurnal Science Direct Bioresouce Technology 100 (2009) 5519-5526.
Korten, D.C. 1990. Getting to the 21st Century: Voluntary Action and the Global Agenda. Kumarin Press Inc., Connecticut.
Martinez dan Jose, Patrick Dabert, Suzelle Barirngton, dan Collin Burton. 2009. Livestock Waste System For Environmental Quality, Food Safety and Sustainability. Jurnal Science Direct Bioresouce Technology 100 (2009) 5527-5536.
Nastiti, Sri (2008). Penampilan Budidaya Ternak Ruminansia di Perdesaan Melalui Teknologi Ramah Lingkungan. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2008.
Sudiarto, Bambang. 2008. Pengelolaan Limbah Peternakan Terpadu dan Agribisnis yang Berwawasan Lingkungan. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Universitas Padjajaran Bandung.
Suwandi. 2005. Keberlanjutan Usahatani Terpadu Pola Padi Sawah-Sapi Potong Terpadu Di Kabupaten Sragen : Pendekatan RAF-CLS. Disertasi Doktor. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *